Serangan Israel ke Suriah memicu kecaman dari Indonesia bersama sejumlah negara lain. Serangan tersebut menyasar pangkalan udara Abu al-Duhur di wilayah Idlib pada 18 Agustus 2026.
Kementerian luar negeri dari 12 negara, termasuk Indonesia, menyatakan serangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan, integritas wilayah, dan persatuan politik Suriah. Mereka juga menyerukan respons internasional yang lebih kuat.
Serangan tersebut menambah ketegangan di kawasan. Israel menyatakan tindakannya berkaitan dengan kekhawatiran mengenai kemungkinan pengerahan pasukan Turki di pangkalan tersebut.
Serangan Israel ke Suriah Dikecam Indonesia
Indonesia bergabung dengan Turki, Aljazair, Yordania, Lebanon, Malaysia, Mauritania, Pakistan, Palestina, Qatar, Arab Saudi, dan Somalia dalam mengecam serangan tersebut.
Dalam pernyataan bersama, kedua belas negara menilai serangan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Suriah. Mereka juga menyerukan tindakan internasional yang lebih tegas.
Sikap tersebut menunjukkan kekhawatiran negara-negara tersebut terhadap meningkatnya ketegangan di Suriah. Mereka mendorong penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Israel Berikan Alasan Serangan
Israel menyatakan serangan dilakukan karena Suriah dinilai hampir melanggar kesepakatan keamanan yang berlaku. Pemerintah Israel menuduh adanya rencana pengerahan pasukan Turki ke pangkalan Abu al-Duhur.
Namun, Turki membantah adanya rencana untuk membangun pangkalan militer di lokasi tersebut. Pemerintah Suriah juga menyatakan tidak ada rencana kehadiran militer Turki secara permanen di pangkalan tersebut.
Perbedaan klaim tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan baru antara Israel, Turki, dan Suriah.
Pangkalan Abu al-Duhur Mengalami Kerusakan
Serangan Israel menghantam landasan pacu dan sejumlah fasilitas penyimpanan di pangkalan Abu al-Duhur. Media pemerintah Suriah melaporkan terdapat delapan serangan udara. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Pangkalan tersebut berada di Provinsi Idlib, sekitar 70 kilometer dari perbatasan Turki. Fasilitas itu sebelumnya tidak aktif sejak 2013 akibat perang saudara Suriah.
Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan infrastruktur militer Suriah. Keterlibatan Turki dalam membantu pembangunan kemampuan militer Suriah turut menjadi perhatian Israel.
Amerika Serikat Soroti Eskalasi
Amerika Serikat juga menyampaikan kekhawatiran terhadap serangan tersebut. Utusan khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, menyebut serangan itu sebagai eskalasi yang tidak diperlukan.
Washington juga berupaya membangun mekanisme komunikasi antara Israel, Turki, dan Suriah. Langkah tersebut bertujuan mencegah kesalahpahaman yang dapat meningkatkan risiko konflik.
Sementara itu, laporan terbaru menyebut Israel tidak memberikan pemberitahuan sebelumnya kepada Amerika Serikat mengenai serangan tersebut. Pernyataan itu kemudian diperdebatkan oleh Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.
Ketegangan Israel dan Turki Meningkat
Serangan tersebut memperburuk hubungan Israel dan Turki yang sebelumnya sudah menghadapi ketegangan. Ankara merupakan salah satu pendukung utama pemerintahan baru Suriah.
Israel semakin memperhatikan pengaruh Turki di Suriah setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada 2024. Kehadiran militer dan dukungan Ankara terhadap Damaskus menjadi salah satu perhatian keamanan Israel.
Di sisi lain, Turki menilai serangan Israel sebagai tindakan berbahaya. Ankara menyerukan penghentian serangan dan penghormatan terhadap kedaulatan Suriah.
Pada akhirnya, Serangan Israel ke Suriah memperlihatkan meningkatnya kompleksitas persaingan keamanan di kawasan. Kecaman Indonesia dan sejumlah negara lain menambah tekanan diplomatik terhadap Israel, sementara upaya Amerika Serikat untuk mencegah eskalasi terus berlangsung.
