Gempa Guncang Myanmar dan Thailand, Korban Terus Bertambah
Pada Jumat, 28 Maret 2025, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Myanmar, dengan pusat gempa terletak sekitar 16 kilometer barat laut dari Kota Sagaing, menurut Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Tak lama setelah itu, gempa susulan terjadi dengan magnitudo 6,4, yang mempengaruhi wilayah sekitar Sagaing.
Dampak gempa ini terasa tidak hanya di Myanmar, tetapi juga di negara-negara tetangga seperti Thailand dan China. Hingga saat ini, lebih dari 144 orang dilaporkan meninggal dan 732 lainnya terluka di Myanmar. Jumlah korban diperkirakan masih akan terus bertambah. Pemimpin militer Myanmar, Min Aung Hlaing, mengonfirmasi bahwa sebagian besar korban tewas berasal dari Naypyidaw (96 orang), Sagaing (18 orang), dan Mandalay (30 orang).
Penyelamatan dan Kerusakan yang Parah
Sementara itu, di Mandalay, tim penyelamat melaporkan bahwa kerusakan sangat parah, dengan banyak bangunan yang runtuh. Seorang anggota tim penyelamat mengatakan bahwa meskipun jumlah pasti korban belum dapat dipastikan, jumlah korban tewas diperkirakan mencapai ratusan. Rumah sakit di Naypyidaw dilaporkan penuh sesak, dengan banyak korban yang harus dirawat di luar rumah sakit karena kapasitas yang terbatas. Situasi ini semakin diperburuk oleh kemacetan total di sekitar rumah sakit yang rusak.
Kondisi yang sama juga terjadi di beberapa kota besar lainnya, seperti Sagaing dan Mandalay, yang kini berada dalam status darurat. Jalan-jalan rusak parah, dan banyak bangunan mengalami kerusakan struktural yang serius.
Dampak di Thailand
Gempa tersebut juga terasa di Bangkok, Thailand, di mana sebuah bangunan yang sedang dalam proses konstruksi roboh, mengubur beberapa pekerja konstruksi di dalamnya. Hingga saat ini, sekitar 43 pekerja dinyatakan hilang, dengan 320 orang berada di lokasi saat gempa terjadi. Petugas penyelamat telah diterjunkan untuk mencari korban selamat, sementara rumah sakit lapangan didirikan di lokasi kejadian.
Seorang saksi mata yang berada di Bangkok, Bui Thu, mengungkapkan bahwa dirinya sangat panik saat merasakan gempa pertama. “Saya hanya melihat retakan di dinding dan air menyembur keluar dari kolam renang. Kami semua berlari ke luar,” ujarnya. “Bangunan-bangunan di Bangkok tidak dirancang untuk gempa, jadi saya pikir kerusakannya akan sangat besar.”
Kesulitan Mengakses Informasi di Myanmar
Salah satu tantangan terbesar dalam situasi ini adalah kesulitan memperoleh informasi langsung dari Myanmar. Negara tersebut masih diperintah oleh junta militer yang membatasi kebebasan pers dan komunikasi. Internet dan jalur komunikasi lainnya tampaknya terputus, yang mempersulit upaya penyelamatan dan koordinasi bantuan. Banyak laporan yang datang dari tim penyelamat di lapangan mengindikasikan bahwa mereka belum mendapatkan akses penuh ke daerah yang terdampak.
Kerusakan Infrastruktur yang Luas
Dampak gempa ini juga sangat merusak infrastruktur di wilayah yang terhimpit. Selain rumah sakit yang penuh sesak, banyak bangunan di Mandalay dan Naypyidaw yang runtuh, menambah daftar kerugian yang sudah sangat besar. Pemerintah Myanmar telah mengeluarkan pernyataan darurat dan berjanji untuk memprioritaskan upaya penyelamatan di wilayah yang paling parah terdampak.
Gempa Bumi yang Terjadi di Wilayah Rentan
Gempa bumi magnitudo 7,7 ini terjadi di dekat Sesar Sagaing, yang dikenal sebagai salah satu daerah rawan gempa di Myanmar. Antara tahun 1930 dan 1956, enam gempa besar dengan kekuatan serupa pernah tercatat di wilayah ini. Meskipun bencana besar cukup sering terjadi di Myanmar, Thailand relatif lebih jarang mengalami bencana alam semacam ini.

